
Sabtu, 6 Juni 2009 01:12 WIB | Warta Bumi | Masalah Lingkungan | Dibaca 269 kali
Cilegon (ANTARA News) - Emisi gas buang kendaraan dan kadar debu
merupakan penyumbang terbesar buruknya kualitas udara di Cilegon,
Banten.
"Dari beberapa kali pemantauan kualitas udara, tetap di lokasi
tersebut hidrokarbonnya tinggi dan kita belum bisa menetralisirnya,"
kata Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup, Badan Lingkungan
Hidup (BLH) Kota Cilegon, Rasmi Widyani, di Cilegon, Jumat.
Di beberapa lokasi di dalam kota kandungan hidrokarbonnya terbilang
sangat tinggi, melebihi ambang batas baku mutu yang ditetapkan.
Selain minimnya melakukan pemantauan kualitas udara, Cilegon tidak
mempunyai ruang terbuka hijau (RTH) dan pohon pelindung.
Untuk pemantauan kualitas udara tahun 2009 dilakukan di 24 titik,
yaitu di wilayah industri, pemukiman penduduk dan jalur lalu lintas
padat.
Hasil dari pemantauan di beberapa titik itu belum bisa di ketahui,
karena harus menunggu hasil pengujian di laboratorium, kata Rasmi.
Sementara dari hasil pemantauan BLH Kota Cilegon tahun lalu,
hidrokarbon dan debu masih tinggi dua kali lipat dari batas normal.
"Di titik yang lalu lintas nya padat hidrokarbon seharusnya 160
mikrogram dari hasil pemantauan tercatat 500 mikrogram," kata dia.
Dijelaskan, ke depan untuk menetralisir hidrokarbon, BLH Kota Cilegon
akan melakukan penanaman pohon di titik pemantauan udara dan melakukan
upaya kerjasama dengan instansi lain seperti dengan Dinas Perhubungan
untuk melakukan uji emisi kendaraan secara berkala.
"Kami juga merencanakan menyiapkan daerah lahan hijau yang lokasinya
di bekas Pasar Baru," kata Rasmi.
Sementara RTH yang ada di Cilegon merupakan lahan ruang hijau milik
pabrik baja PT Krakatau Steel.(*)
-Zenni-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar