
Stephenie tak pernah menyangka,
tiga novelnya – menyusul novel ke
empat – menjadi best seller di banyak
negara, termasuk Indonesia. Ia siap
menjadi the next JK Rowling.
Munculnya film Twilight, menjadi puncak obsesi para remaja Amerika, juga sebagian besar di Eropa. Mereka seolah-olah tidak sabar dengan kemunculan sososk Edward yang fenomenal. Meski selama ini, Edward hanya menjadi imajinasi fiktif di dalam 4 novel karangan Stephenie Meyer.
Twilight diprediksi akan menjadi film terbaik akhir tahun, sekaligus film yang paling diminati. Tentu saja, kesuksesan ini berkaitan dengan sukses emapt novel karya Stephenie; Twilight, New Moon, Eclipse, dan Breaking Down. Tiga novel pendahulu, bahkan sudah masuk dalam best seller, dan siap disusul novel keempat yang telah cetak ulang beberapa kali. Hingga saat ini, baru tiga novel awal yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Stephenie (35), ibu tiga anak, Gabe (8), Seth (5), dan Eli (3). Suatu malam, di bulan Juni, 5 tahun silam, ia bermimpi tentang wanita muda yang sedang berbincang dengan seorang pria tampan dan sangat mempesona. Pria ini ternyata vampire. Keduanya lantas jatuh cinta. Padahal, sang vampire mengaku sulit sekali menahan diri tidak menggigit dan membunuh kekasihnya ini.
Mimpi Stephenie ini berhenti sampai di situ. Suatu hari, ia berkutat dengan kostum Halloween untuk anaknya, dan harus membuat scrapbook. Tiba-tiba ia bermimpi lagi, dan terasa tampak nyata, sehingga ia harus menulisnya.
Stephenie terpacu untuk menulis, dan langsung selesai 10 halaman. Justru 10 halaman pertama inilah yang akhirnya menjadi bab ke-13 dalam buku pertamanya, Twilight. Isinya sebuah pengakuan, sekaligus inti dari novel yang fenomenal tersebut.
Stephenie anak ke-2 dari 6 bersaudara yang lahir di Hartford, Connecticut, Amerika Serikat, sehari sebelum Natal 1973. Ayahnya, Stephen Morgan adalah manager di sebuah perusahaan konstruksi. Ibunya, Candy, adalah ibu rumah tangga.
Stephenie menghabiskan masa kecilnya di Phoniex. Ia menyelesaikan kuliah Sastra Inggris di Brigham Young University, di Provo, Utah, tahun 1995. Di kampus inilah ia bertemu Chritian Meyer, akuntan, yang kini menjadi suaminya.
Uniknya, Stephenie justru tak pernah berniat jadi penulis. “Hidup saya sebelum Twilight hadir adalah cita-cita saya. Kini, saya menjalani hidup yang melebihi cita-cita saya, bahkan belum pernah saya impikan,” kata Stephenie, haru.
-Zenni-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar