
Masyarakat Karibia memilih Islam karena agama ini mengajarkan
keseimbangan hidup dunia akhirat.
Kepulauan Karibia meliputi sekitar 19 negara kecil, seperti Guyana,
Trinidad dan Tobago, Suriname, dan lainnya. Kawasan ini cukup terkenal
di seantero dunia karena keindahan alamnya. Tak mengherankan jika
Karibia menjadi salah satu tujuan wisata paling populer.
Setiap tahun, para turis asal Amerika dan Eropa berkunjung ke sana
untuk menikmati wisata pantai dan laut. Efeknya, masyarakat lokal
dapat menarik keuntungan cukup besar dari industri pariwisata ini.
Di antara penduduk setempat, terdapat pula komunitas Muslim yang telah
tinggal di Karibia sejak lama. Jumlah mereka pun cukup besar sehingga
turut memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang pemuka agama setempat, al-Hajj Naseer Ahmad Khan, mengatakan,
saat ini umat Islam sudah berintegrasi dalam berbagai profesi. ''Saya
kira, masa depan kami akan sangat cerah,'' paparnya.
Ahmad Khan, yang juga ketua Islamic Missionaries Guild International,
sebuah lembaga keagamaan yang berkedudukan di Guyana, menjelaskan,
jumlah umat Islam di kepulauan Karibia mencapai sekitar 400 ribu jiwa.
Mereka tersebar di sejumlah negara di kawasan ini, yakni Barbados,
Grenada, Dominika, Pueto Rico, Kepulauan Virgin, dan Jamaika.
Konsentrasi terbesar umat Islam berada di Guyana dengan populasi
mencapai 120 ribu jiwa. Adapun di Trinidad dan Tobago serta Guyana
masing-masing terdapat sekitar 100 ribu jiwa.
Meski begitu, di Trinidad-lah pusat keislaman kawasan ini, bahkan
kerap menggelar kegiatan berskala internasional. Pangeran Arab Saudi,
Muhammad ibn Faisal, misalnya, pernah datang ke Trinidad untuk
menghadiri sebuah perhelatan konferensi dakwah. Di negara ini,
terdapat sekitar 85 masjid.
Trinidad dan Tobago terletak di bagian selatan Karibia. Negara ini
memiliki aneka ragam budaya dari masyarakat yang multikultural yang
dilingkupi sikap tenggang rasa, pembauran agama, dan kebudayaan
sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat.
Selain Islam, dua agama terbesar lainnya adalah Kristen dan Hindu.
Negara kepulauan yang pada awalnya diduduki oleh bangsa Spanyol,
Inggris, dan Prancis ini amat kuat dipengaruhi sejarah perbudakan dan
kuli kontrak. Keduanya memberi sumbangan terbesar bagi keragaman
budaya di Trinidad.
Adalah dua orang tokoh agama, yaitu Nizam Mohammed yang merupakan
mantan politikus serta Noor Mohammed Hassanali yang gencar
menyosialisasikan dan menyebarkan agama Islam. Kiprah mereka dalam
berdakwah di masjid-masjid telah membangkitkan ghirah (semangat)
keislaman di kalangan komunitas Muslim.
Tahun lalu, keduanya dipercaya memberikan khotbah Idul Fitri. Ribuan
umat Islam (diperkirakan mencapai 4 ribu orang) memenuhi lapangan
besar di Jean Pierre Cultural Complex di Port-of-Spain. ''Muslim di
Trinidad, kendati tidak terlampau besar, sangat terorganisasi,''
ungkap Imtiaz Ali (32 tahun), seorang Muslim Trinidad.
Negara ini, sambungnya, terbagi menjadi dua generasi umat Islam.
Pertama, yang masih memegang teguh tradisi. Mereka dikatakan sulit
menerima Islam yang dinamis. Sedangkan, kelompok kedua adalah generasi
muda Muslim.''Tahun sebelumnya, ada sekitar 100 orang dari Trinidad
yang menunaikan ibadah haji ke Makkah dan sebagian besar berasal dari
generasi muda,'' ungkap Ali.
Kontribusi umat
Dari mana asal usul umat Islam di Karibia? Ali, Naseer Ahmad Khan, dan
lainnya merupakan keturunan Muslim yang berasal dari sebuah provinsi
di India, Uttar Pradesh.
Nenek moyang mereka itu pertama kali tiba di kawasan ini sekitar tahun
1845. ''Yang membawanya adalah para tuan tanah setempat. Orang-orang
Islam dijanjikan kesejahteraan dengan memperoleh tanah. Tapi, janji
tinggal janji, akhirnya banyak yang meninggal karena menderita,''
imbuh Ali.
Di sana, para imigran ini dipekerjakan di perkebunan tebu dan tembakau
dengan memakai sistem imbal tenaga. Sejak perbudakan dihapuskan di
seluruh wilayah jajahan Inggris, tuan tanah menerapkan sistem itu.
Pekerja tersebut tidak menerima upah sebagai konsekuensi pembayaran
utang-utang mereka dan biaya perjalanan.
Karena terus dipaksa bekerja keras setiap hari, banyak pekerja Muslim
asal India ini yang tak sempat mencatatkan atau menuliskan riwayat
mereka serta tempat tinggal sebelumnya. ''Kini, kita menjadi tidak
tahu apa pun tentang asal usul kita di India,'' kata Nizam Mohammed.
Mohammed (46 tahun), lulusan sekolah tinggi di London, mengaku sama
sekali tidak mengetahui apakah nenek moyangnya termasuk di antara
pendatang Islam pertama dari India yang menumpangi kapal Fatel Razeck.
Dia hanya mengenal nama kedua buyutnya, yakni Kallam Meah dan Rajeem
Meah. Setelah bekerja selama lima tahun memenuhi sistem imbal tenaga,
Kallam melanjutkan bekerja di perkebunan kopi dan cokelat, sedangkan
Rajeem memilih profesi sebagai penjahit.
Selain imigran dari India, ada lagi komunitas Muslim yang berasal dari
Afrika. Mereka merupakan Suku Mandingo, suku asli Afrika Barat.
Merekalah pemeluk Islam pertama yang datang ke Trinidad, tepatnya pada
tahun 1777. Ketika itu, orang-orang Afrika ini dipekerjakan di
perkebunan tebu sebagai budak.
Hingga tahun 1802, jumlah mereka telah mencapai 20 ribu jiwa. Tahun
1830-an, orang Islam asal Afrika ini menetap di Port of Spain.
Kebanyakan tidak bisa baca tulis, namun terorganisasi berkat peran
Muhammad Beth, yang telah membeli kebebasannya dari perbudakan. Mereka
tetap mempertahankan agamanya, bergiat di banyak bidang, dan secara
berkala kembali ke kampung halaman di Senegal.
Lainnya adalah warga Muslim dari Timur Tengah, Indonesia, Pakistan,
dan sebagainya. Sejarah mencatat, sebelum Trinidad menemukan sumur
minyak pertamanya, ekonomi di wilayah itu telah maju pesat. Para
pendatang Muslim dulunya menekuni bidang pertanian dan perdagangan.
''Saat ini, umat Muslim cukup berperan signifikan dalam kemajuan
ekonomi,'' urai Mohammed. ''Banyak dari mereka berhasil mencapai
posisi penting di sebuah perusahaan publik. Mereka juga selalu
terlibat dalam bidang politik.''
Hal itu diamini oleh Perdana Menteri ANR Robinson. ''Umat Muslim terus
memberikan kontribusi cukup besar dalam berbagai aspek kehidupan,
mulai dari sosial, ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan. Hal ini
tentu sangatlah membanggakan,'' jelasnya.
Pertumbuhan ekonomi terus dijaga. Walau harga minyak mentah dunia
masih terus bergejolak, Trinidad tetap mampu mempertahankan pendapatan
per kapita sebesar 6 ribu dolar AS, peringkat keempat tertinggi di
kawasan barat Benua Amerika.
Tetap Giat Bekerja
Berbeda dengan Trinidad dan Tobago, kondisi negara Guyana justru
banyak bergelut dengan perekonomian yang kurang menunjang. Ini sebagai
akibat kebijakan ekonomi dari pemerintahan sebelumnya.
Pendapatan per kapitanya hanya 570 dolar AS sehingga menjadikannya
negara termiskin ketiga di kawasan ini, setelah Haiti dan Bolivia.
Sektor pariwisata di negara kecil ini juga kurang berkembang, ditambah
lagi dengan harga tiga komoditas utama: beras, gula, dan baoksit, yang
terus turun di pasaran dunia hingga menimbulkan inflasi. Nilai tukar
uangnya pun semakin rendah.
Sebagai gambaran, jika tahun lalu satu dolar AS masih sekitar 4,25
dolar Guyana, kini nilainya sudah terjun ke 20 dolar Guyana per dolar
AS. Maka, tak heran, utang luar negeri jadi andalan pembiayaan. Kini,
jumlahnya sudah mencapai 1 hingga 5 miliar dolar atau mendekati 1,875
dolar AS per kapita.
''Problem terbesar di Guyana kini adalah bagaimana membayar utang
negara,'' papar Al-Haj Naseer Ahmad Khan. ''Tapi, setelah pergantian
kepemimpinan, saya kira ada secercah harapan menuju kemajuan.'' Akibat
situasi ini, segenap penduduk Guyana harus bekerja keras, termasuk
kalangan komunitas Muslim yang jumlahnya sekitar 15 persen dari
populasi penduduk sebesar 800 ribu jiwa.
Beratnya beban kehidupan tak menghalangi umat untuk bergiat ibadah.
Masjid-masjid yang jumlahnya diperkirakan mencapai 133 unit di seluruh
negeri tetap ramai dengan berbagai kegiatan, termasuk di Masjid Dar
al-Salaam, terletak di Ibu Kota Georgetown.
Sejatinya, di Guyana, semua pemeluk agama menikmati kebebasan
menjalankan ajaran agama masing-masing. Para pegawai pemerintah yang
beragama Islam bahkan mendapat jatah istirahat dua jam setiap hari
Jumat agar dapat menunaikan shalat Jumat.
Kondisi serupa juga ditemui di Suriname, sebuah negara yang lebih
multietnis. Umat Muslim di sini kebanyakan adalah kalangan masyarakat
kelas menengah bawah dan mereka bekerja di sektor pertanian. ''Muslim
di sini mengandalkan kerja keras sendiri, sementara umat Kristen dan
Hindu banyak mendapatkan dukungan dana dan moral dari berbagai
organisasi di Belanda, Amerika Serikat, dan India,'' papar Dr Isaac
Jamaludin, ketua Madjlies Moeslimien Suriname.
Pada akhirnya, ketekunan dan kegigihan umat Islam dalam bekerja
memunculkan simpati dan ketertarikan dari warga kepulauan Karibia.
Surat kabar El Nuevo Herald dalam satu laporannya menyebutkan, para
penduduk kepulauan Karibia dalam beberapa tahun ini makin banyak yang
beralih ke agama Islam.Sementara itu, harian Trinidad menyatakan
alasan mengapa banyak warga memilih Islam antara lain karena tertarik
dengan keseimbangan antara bekerja dan spiritualitas yang diajarkan
Islam.
Mereka yang tadinya tidak punya pekerjaan, setelah masuk Islam,
menjadi giat bekerja dan tidak lagi bermalas-malasan. Sebab, agama
Islam mengajarkan bahwa orang-orang yang rajin bekerja akan
mendapatkan balasan pahala yang besar. Hal ini berdampak pada makin
meningkatnya standar kualitas kehidupan di kalangan masyarakat
kepulauan Karibia.yus/taq
-Zenni-