Annyeong Haseyo :)

Mix and Match Berita Ada Disini ^^

Jumat, 18 September 2009

10 Alasan Pria Telat Kawin


Jika pria telat menikah, itu tidak berarti mereka anti pernikahan. Hanya saja mereka tidak merasa perlu buru-buru melakukannya. Berdasar sebuah penelitian, teruangkap 10 alasan utama mengapa pria menunda pernikahannya. Termasuk mengapa mereka menikmati masa lajangnya, melakukan sejumlah hubungan seks tanpa ikatan, dan menghadapi beberapa tekanan sosial untuk menikah. Mau tahu apa saja alasan-alasan itu?

1. Dapat berhubungan intim dengan mudah tanpa ikatan. Itu sebabnya pria lebih memilih berpacaran terus dibandingkan bila harus cepat-cepat naik pelaminan.

2. Mereka dapat menikmati keuntungan memiliki "seorang istri" lewat cara berpacaran daripada dari sebuah pernikahan resmi.

3. Mereka ingin menghindari perceraian serta risiko finansialnya, seperti harus tetap membiayai mantan istri dan anak-anak dari hasil perkawinan, juga membagi harta.

4. Mereka ingin menunggu sampai berusia lebih tua baru memiliki anak-anak. Soalnya, begitu punya anak, pria umumnya ingin memberi hanya yang terbaik. Termasuk kehidupan serta pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

5. Mereka takut pernikahan menuntut banyak perubahan yang harus dilakukan serta harus mau berkompromi.

6. Mereka menunggu sampai bertemu dengan teman sejiwa yang tidak dan belum juga muncul.

7. Mereka menghadapi beberapa tekanan sosial untuk menikah.

8. Mereka enggan menikah dengan wanita yang telah memiliki anak.

9. Mereka ingin memiliki rumah sebelum memiliki seorang istri.

10. Mereka ingin menikmati masa lajangnya sedapat dan selama mungkin.


-Zenni-

Seorang tukang kayu


Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat.
Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu minta pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.
Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Pikirannya tidak sepenuhnya dicurahkan.
Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.
Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. " Rumah ini adalah rumah kamu," kata sang pemilik perusahaan. " Hadiah dari saya sebagai penghargaan atas pengabdian kamu selama ini."
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali.
Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri. Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang aneh.
Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang terbaik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup, kita tidak memberikan yang terbaik.
Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya, sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.
Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun.
Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.
Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hidup adalah proyek yang kita kerjakan sendiri.

Keberhasilan yang diraih, atau kegagalan yang menimpa dapat ditelusuri jauhke dalam diri kita masing-masing.Karena KITA-LAH YANG MENJALANI semua ini.Bukan orang lain.

" Seorang bijak pernah mengatakan demikian : Amatilah pikiranmu, karena akan menjadi ucapanmu. Amatilah ucapanmu, karena akan menjadi tindakanmu. Amatilah tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu. Amatilah kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu. Amatilah karaktermu, karena akan menjadi nasibmu. Di atas semua itu, amatilah dirimu sendiri. Hanya mereka yang mengenal dirinya-lah yang akan mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya."


-Zenni-